Jl. Cipete Raya No. 76 Jakarta Selatan
BB Pin : 276578F5 | Phone : +62 21 759 080 78
Beranda > news > BARASUARA

BARASUARA

Ini adalah kali pertama saya membuat catatan tentang bagaimana saya melakukan sesi rekaman di studio. Ide yang sederhana dan cukup menarik ternyata. Semoga celoteh saya dalam beberapa paragraf kedepan bisa jadi sesuatu yang berguna untuk anda.

Pertama, BARASUARA adalah sebuah band yang saya buat bersama Gerald Situmorang, TJ Kusuma, Marco Steffiano dan Asteriska. Saya bukan orang yang suka berkoar soal konsep musik, genre serta visi dan misi. Saya lebih suka berbicara lewat musiknya lalu membiarkan anda yang menjawab semua itu. Biarlah konsep saya menjadi milik saya sendiri dan saya biarkan konsep anda menjadi milik anda sendiri. Karena musik adalah satu hal yang mempunyai nilai personal yang sangat kuat dan saya tidak ingin mengusik itu.

Lagu berjudul Tarintih milik BARASUARA telah direkam di BackBeat Studio, Cipete, Jakarta. Hal ini bisa terjadi karena obrolan singkat antara saya dan pihak BackBeat tentang visi mereka untuk mendukung band band baru yang segar agar dapat merekam lagunya dengan kualitas baik dan memuaskan. Dan saya pribadi memang puas.

Sesi pertama adalah merekam semua instrumen dimulai dari drum, bass lalu gitar. Marco membawa beberapa set drumnya sendiri dan kemudian kru tangkas dari BackBeat menyiapkan microphone kelas berat untuk mendapat hasil ruang yang optimal. Kali ini Barlian Yoga menjadi head engineer di sesi rekaman Tarintih.

Setelah drum selesai direkam, kami lanjut merekam bass. Gerald menggunakan Fender Jazz Bass yang digabungkan dengan preamp serta compressor dari Phoenix Audio, Chandler dll. Untuk tone shaping saya tambahkan Parametric Equalizer dari Stonedeaf FX. Hasilnya lagi lagi memuaskan. Gerald memainkan 2 sound yang berbeda pada bagian verse dan outro. Kami berdua puas akan kinerja kru dan perangkat dari BackBeat yang tanggap memenuhi sound apa yang kami inginkan.

Menuju ke gitar, saya pribadi adalah orang yang sangat suka membuat banyak track dengan berbagai sound yang berbeda. Sebuah kebiasaan yang entah baik entah buruk hahaha. Hal ini membuat saya dan Barlian Yoga berdiskusi alot. Yoga sebagai engineer menginginkan sound yang lebih solid sementara saya menyukai sound yang variatif. Setelah jajak pendapat akhirnya kami setuju untuk merekam semua track yang diperlukan tanpa harus menciptakan begitu banyak track.

Saya menggunakan gitar Telecaster kesayangan saya, ampli Tech 21 Trademark 60 serta pedalboard yang berisikan pedal pedal andalan saya. Semua ini direkam melalui koleksi mic ribbon dan dynamic milik BackBeat. Setiap track dibuat 4 channel untuk mendapat ambience dan detail yang optimal.

Gitar kedua adalah milik TJ Kusuma. TJ menggunakan PRS dan memboyong ampli Marshall Vintage Modern miliknya lengkap dengan pedalboard berukuran besar dengan rangkaian efek seperti Eventide, Fulltone, MXR dll di dalamnya. Jika Telecaster saya bertugas untuk memberi ritme yang fokus, PRS milik TJ adalah untuk menciptakan ambience yang mengisi ruang kosong dalam lagu Tarintih. Dengan variasi suara seperti reverse delay dan phaser, TJ menutup bagian gitar di lagu ini dengan cantik.

Ada satu lagi. Sebuah gitar Danelectro hijau yang super twangy milik Gerald saya gunakan untuk mendapatkan sound ala surf rock di bagian intro. Sebuah eksperimen yang cukup sukses menurut kami.

DI hari berikutnya adalah giliran Reza Achman dari Matajiwa yang mengisi bagian perkusi. Reza memiliki set perkusi yang unik. Dia tidak menggunakan instrumen perkusi yang umum. Reza menyebutnya ‘drumcussion’ sebuah perpaduan antara drum dan perkusi. Plus Ia juga membawa berbagai perangkat alat pukul yang berbunyi unik seperti tumpukan simbal yang dipotong dan beberapa toys yang entah apa namanya. Sound yang dihasillan sangat ramai, renyah dan kasar. Sesuai dengan apa yang dibutuhkan lagu Tarintih pada bagian menuju klimaks.

Sound perkusi Reza bisa ditangkap dengan baik oleh rangkaian micophone dan preamp milik BackBeat tanpa harus memanipulasi suara yang ada. Hasil mentahnya menurut saya sudah cukup memuaskan.

Kira kira ini adalah sebuah gambaran tentang proses rekaman lagu Tarintih milik BARASUARA di BackBeat Studio. Sebuah sesi rekaman yang kooperatif dan menyenangkan. Senang rasanya mengetahui bahwa BackBeat memiliki visi untuk mendukung band band baru yang bermunculan. Semoga dalam catatan sederhana ini anda bisa membantu anda para musisi yang sedang mencari studio rekaman yang berkualitas dengan pelayanan yang memuaskan.

Salam,

Iga Massardi

sumber :  

catatan-rekaman-barasuara-di-backbeat-studio

Kunjungi kami di Google+